Mengenal Tradisi Seni Bangreng |
tradisi-nuswantoro.my.id - Jawa Barat menyimpan banyak kekayaan seni dan budaya yang belum terkuat bahkan jarang dikenal oleh masyarakat dijaman globalisasi ini. Salah satu seni tradisi yang saat ini tidak begitu dikenal bahkan mungkin oleh masyarakat Jawa Barat pada umumnya adalah keseniang
Bangreng yang berasal dari Sumedang. Kesenian ini mulai ditinggalkan pada zaman modern ini. Namun ada baiknya kita mengenal mengenai seluk beluk Kesenian Bangreng tersebut sebagai pengetahuan adanya kesenian pada waktu yang telah lalu.
Makna dan Fungsi Pertunjukan Seni Seni Bangren
Oleh
:
Enden Irma R Pendahuluan
Dalam fase kehidupan masyarakat terhadap seni khususnya generasi muda, saat ini umumnya mereka lebih memiliki perasaan yang mengikuti pola kehidupan budaya asing dari pada mencoba menjadi dirinya sendiri di tengah budayanya. Kenyataan ini berdampak luas pada kehidupan seni budaya tradisi yang berdampak pada terkikisnya nilai-nilai budaya khususnya seni tradisional.
Di tengah-tengah perubahan pola kehidupan masyarakat tersebut, kita masih berharap seni tradisioanal di wilayah Jawa Barat tidak sirna dalam kehidupan masyarakatnya. Hal ini akan menguat pada masyarakat yang belum banyak tersentuh pola pengaruh budaya asing walaupun dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Hadirnya atau adanya perhatian dari kaum intelektual terhadap pentingnya nilai-nilai budaya dan seni tradisional yang masih hidup di dalam masyarakat sangatlah berarti bagi generasi penerus yang akan mengkonversi nilai-nilai budaya tradisional tersebut.
Dari sekian banyak seni tradisional yang masih hidup dalam masyarakat Jawa Barat, semuanya memiliki makna dan fungsi yang berarti bagi masyarakat. Salah satu jenis seni tradisional yang masih eksis tersebut adalah seni tradisional Bangreng ini berkaiatan erat dengan kegiatan-kegiatan ritual khususnya dalam kehidupan masyarakat agraris. Seni Bangreng ini merupakan bentuk seni rakyat yang memiliki nilai religi yang cukup tinggi bagi masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu saat ini seni Bangreng masih tetap ada maupun tampil di dalam kehidupan masyarakat, bahkan masih dianggap atau dijadikan simbol religi dalam upacara ritual desa walaupun masih ada juga masyarakat yang kurang begitu mempercayai terhadap makna dan religi tersebut.
Batasan Seni Bangreng
Kata bangreng berasal dari dua suku kata “bang“ dan “reng“ yang masing-masing merupakan akronim dari kata terbang dan ronggeng (Ensiklopedi Musik, jilid I , 1992 : 23). Terbang adalah alat bunyi-bunyian yang terbuat dari kayu dengan muka bulat yang berkulit, seperti rebna. Ronggeng adalah juru kawih merangkap penari wanita dalamm ketuk tilu dengan tarian dan nyanyiannya melayani tarian pria yang menghadapinya ( Ensiklopedi Umum, 1977 : 88).
Batasan di atas baru mengungkapkan dua sisi dari seni bangreng dan belum menyatakan kesenian bangreng secara utuh. Lebih lengkapnya diungkapakan dalam Ensiklopedi Musik, Jilid I (1992 : 31) yaitu :
Bangreng kependekan dari kata ter-Bang dan rong-Eng, yakni bentuk kesenian rakyat di Jawa Barat yang dimainkan dengan seorang interpreter gerak keindahan. Instrument yang di-gunakan adalah rebab, terbang, saron, kendang, kulanter, kempul, dan goong.
Dari berbagai definisi di atas dapat diambil pemaknaan yang lebih mendalam dan fokus, bahwa seni bangreng merupakan suatu bentuk kesenian rakyat yang mempergunakan terbang serta waditra lainnya, dan ditambah dengan ronggeng sebagai penari sekaligus juru sekar. Pada awalnya kesenian ini lebih sering berfungsi sebagai sarana upacara ritual, tetapi perkembangan selanjutnya menuju pada fungsi seni sebgai hiburan atau tontonan.
Seni Bangreng
Seni bagreng merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang makin popular khususnya di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang, namun sayangnya hingga saat ini belum ada keterangan yang jelas mengenai kapan dan dimana awal lahirnya seni bangreng ini.
Lilis Sumiati, dkk., dalam buku Capita Selekta Tari ( 1996 : 1 ) mengatakan bahwa Bangreng merupakan kesenian rakyat khas daerah sunda, yang perkembangannya mengalami beberapa periode, yaitu :
periode ketika terbang berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam, kira-kira tahun 1550 ;
periode ketika terbang mengalamai perkembangan dan berubah menjadi gembyung, kira-kira tahun 1956;
periode ketika gembyung mengalami perkembangan dan berubah menjadi bangreng, kira-kira tahun 1968.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa seni bangreng merupakan metamorfosa dari seni terbang yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana dakwah agama Islam. Hal ini dimungkinkan karena berdasarkan tinjauan sejarah kebudayaan masyarakat sumedang bahwa kesenian tradisioanal terbang dibawa oleh para saudagar Islam dari Cirebon yang kemudian dikembangkan oleh kalangan santri dalam rangka syi’ar agama Islam di Sumedang. Kemudian terbang mendapat pengaruh dari seni ketuk tilu, sehingga ia berkembang dan kemudian disebut gembyung, seperti diungkapakan Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata (1983: 45) yang menyatakan bahwa :
Gembyung adalah seni terbang yang telah dikombinir dengan alat bunyi-bunyian ketuk tilu antara lain empat buah terbang, kendang, dan kulanter, goong dan kempul, saron, dan rebab. Selanjutnya beliau menambahkan bahwa :
“Gembyung sumedang terdiri dari instrument-instrumen 5 buah gembyung atau terbang besar, kendang, dan goong awi ( goong bumbung yang terbuat dari seruas bambu ).
Perkembangan dari jenis kesenian gembyung di Sumedang disebut bangreng. Menurut data lain ditemukan bahwa seni gembyung berubah atau berkembang menjadi seni bangreng sekitar tahun 60-an (Odin Abidin, Wawancara, Sumedang, 20 juni 2000). Pada saat ini seni gembyung mendapat penambahan alat yang terdiri dari kendang dan kulanter, terbang besar, rebab atau terompet (yang berfungsi sebagai melodi), goong dan kempul, serta dua buah saron (Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata, 1983: 45). Selain itu perubahan juga terjadi pada lagu-lagu yang disajikan, syair-syair berhubungan dengan ke-agamaan berubah menjadi lagu-lagu yang diambil dari gamelan seperti : Kidung, Baju Beureum, Turun Sintren, Kicir-kicir, Rincik Rincang, Adem Ayem, dan se-bagainya (Ibid, halaman
0 Response to "Mengenal Tradisi Seni Bangreng"
Posting Komentar